.:: Acha's Blog ::.

Saturday, April 29, 2006

Aikido Doka




I stand in the mountain stream
So pure! The splashing sound of water against the stone.
Yet where is the person
Who with such purity can speak (of the Way).

- Morihei Ueshiba

Thursday, April 27, 2006

MUHASABAH DIRI

SAYA BERSYUKUR ....

Allah yang maha agung, maha menatap, maha mendengar, maha memperhatikan, Dia tahu apa yang kita lakukan
Tidak satupun lirikan mata yang luput dari pengetahuan Allah
Tidak ada satu katapun yang terucap yang tidak didengar oleh pendengaran Allah yang maha mendengar
Saat ini kita dihargai orang lain, teman, orang tua sesungguhnya bukan kemuliaan yang kita miliki melainkan karena Allah yang masih menutupi aib kita
Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya kian lama kia dekat dengan kepulangan kita
Kain kafan akan ada saatnya akan dibungkuskan ke badan kita
Alangkah beruntungnya jikalau kematian datang kita benar benar sudah siap
Dosa sudah diampuni oleh Allah, badan kita terbasuh air wudhu
Alangkah indahnya jikalau malaikat maut menjemput dengan paras yang teramat indah
Kening kita usai berwujud, lisan kita sedang lirih menyebut nama Allah
Keringat kita sedang bersimbah berjuang dijalan Allah
Alangkah indahnya jikalau kematian datang orang tua ridho kepada kita,
orang orang yang kita sakiti sudah memaafkan tidak ada hutang piutang
Alangkah indahnya jikalau kematian datang air mata kita sedang menetes ingat dan rindu kepada Allah

Kita lepas ajal kita dengan kemuliaan dengan khusnul khotimah
Tapi alangkah banyaknya orang orang yang mati dengan keadaan sebaliknya
Mati dalam keadaan dosa
Mati di tempat zina
Mati dikutuk dan dilaknat orang tua
Mati denganberselimut harta haram
Wahai saudaraku, hidup di dunia hanya sebentar, Allah yang menciptakan kita memilih kita menjadi manusia, bukan menjadi hewan atau tumbuh tumbuhan

Diantara bermilliaran manusia, kita ditakdirkan menjadi orang islam
Betapa banyaknya manusia yang tidak mengenal islam
Diantara begitu banyak orang islam banyak yang tidak mengenal sujud dan tausiah, Allhamdullilah Kening ini sering diberi kesempatan untuk bersujud, Allhamdullilah

Otak kita dibuat cerdas tidak menjadi orang yang hilang ingatan
Allah memberi mata kepada kita sehingga kita bisa melihat indahnya alam
Kita diberi telinga yang dapat mendengar dengan jelas mendengar suara adzan, mendengar suara bayi yang menangis & dapat menerima ilmu, Allhamdullilah
Padahal mudah bagi Allah untuk mengambil telinga ini mudah bagi Allah untuk menghendaki dunia ini menjadi sepi seketika
Allah memberikan kita lidah yang bisa bersuara walaupum Allah tahu betapa banyak dusta yang kita ucapkan,
betapa banyalk fitnah yang kita sebar dari mulut kita
Allah maha tahu perasaan yang tercabik akibat lisan kita
Tapi Allah masih memberikan kesempatan untuk menyebut namanya
Dituntun untuk bisa istigfar padahal mudah bagi Allah untuk menjadikan
mulut ini tidak bersuara

Allah maha tahu bagaimana kita riya dengan tubuh ini,
memamerkan tubuh kita sehingga orang lain tergelincir
Atau kita sering kecewa mengutuk tubuh ini

Allah maha tahu betapa kening ini betapapun bersujud jarang khusu ingat kepada Allah
Allah maha tahu keadaan hati kita yang petantang petenteng, sombong, merasa hebat padahal yang kita sombongkan adalah titipan Allah
Andaikan hari ini malaikat maut berada dihadapan kita,
bekal yang mana yang bisa kita bawa pulang ?
bukanlah kita pasti mati ?
Bukannya semua akan diperhitungkan, mau pulang kemana ?
Saudara saudaraku bukanlah kita ingin pulang kepada Allah ?

Kita sering meminta surga tapi amalan kita amalan neraka, kita sering meminta selamat tetapi perbuatan kita celaka
Kepada orang tua kita sering durhaka, berbulan bulan kita menghisap darahnya dalam
kandungan

Berdiri sulit, berbaring sulit, Kita terlahir bersimbah darah, dua tahun kita hisap air susunya

Belasan tahun kita hisap keringat dan tenaganya
Berapa banyak kata - kata kita mengirisnya, berapa banyak sorot mata kita menghujam melukai perasaannya

berapa kali kita memalingkan wajah dengan ketus kepadanya

Berapa kali kita menghardik dan mendustakannya, padahal amalan yang dicintai Allah adalah doa kita kepada orang tua

Saudaraku, durhaka kepada orang tua didahulukan sisanya di dunia

Mungkin orang tua kita berlumur keringat dan dosa karena ingin melihat kita berbahagia ,
agar kita bisa makan, agar kita punya sepatu, agar kita dihargai teman teman

Mereka membanting tulang memeras keringat, kadang mengabaikan sujud dan sholat mereka

KEMATIANKU .....
Wahai saudaraku apabila malam ini malaikat maut menghampiri kita maka sholat kita hari ini adalah sholat terakhir kita

Wahai saudaraku, ingatlah satu desah nafas adalah satu langkah menuju kubur kita
Semakin hari sesungguhnya kita semakin dekat degan kematian kita

Kematian bukan hanya milik orang lain tapi juga milik kita
Ingatlah bahwa ajal dapat menjemput kita dimana saja mungkin dikala tidur, dikala berjalan. Ingatlah bahwa ajal tidak bisa diduga
Wahai saudara saudaraku, kita pasti akan mati dan kita pasti akan mempertanggung jawabkan apapun yg kita lakukan

Tidak ada sedikit pun yg kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri
Allah melihat persis apa yg kita lakukan tidak ada yg tersembunyi

Siapkah kita andaikata malaikat maut menjemput kita hari ini ?
Ingatlah pada syarakatul maut adalah saat yg sangat pahit
Kita sering melihat bagaimana hewan kurban yg tidak punya dosa,
Allah memperlihatkan kepada kita pahit nya saat ajal memisah dari tubuh kita mata terbeliak lidah menjulur, badan menggelepar glepar sesungguhnya kitapun akan demikian

Walaupun tampak tenang sesungguhnya pahit kecuali Bagi orang orang yang merindukan Allah
Andaikata kita sudah mati tidak ada lagi yang bisa menolong , harta harta kita yang mati matian kita kumpulkan tak bisa kita bawa karna bukan milik kita tapi milik Allah
Tinggal sehelai kain kafan yang dililitkan ditubuh kita
Bayangkanlah apabila tubuh ini sudah kaku,wajah ini sudah beku
Kain kafan sudah mulai dibungkus
Bersyukur kalau kita ada yang mengurus
Bayangkanlah bila tubuh kita sudah terbukur kaku bersyukur bila ada yang menyolatkan kita
Istri, suami, anak anak kita hanya bisa menangis disekitar kita
Kita akan diusung ke kamar kita yang baru, yaitu ke liang lahat
Wajah kita akan dibuka untuk menyentuh tanah dan papan akan ditutup disekitar kita
Pelan pelan orang yang kita cintai akan menaburkan tanah sehingga semakin gelap, semakin kini sendiri
Tanah semakin penuh, semakin jauh dari mereka
Mungkinkah nanti anak anak kita yang menaburkan tanah, sahabat sahabat kita
Inilah pertemuan terakhir dengan mereka
Tinggallah kita sendiri di liang lahat, mereka semua akan pulang
Belatung, cacing sudah mulai mengunyah tubuh kita
Tapi yang menjadi masalah ketika mulai datang malaikat kubur,
Mungkin pertanyaannya: "wahai mahluk malang berpuluh puluh tahun engkau hidup di dunia "

Betapa banyaknya engkau menghianati Allah yang selalu menjamumu

Betapa banyak nikmatnya dan kau balas dengan penghianatan
Mungkin saat itu dinding kubur mulai menghimpit tubuh
Sebetulnya sholat kita akan membela tetapi sholat kita terlalu lemah, karena tidak pernah khusu
Mungkin sedekah kita akan membela tapi sedekah kita terlalu lemah karena kita terlampau kikir
Mungkin saum kita akan menolong tapi saum kita hanya saum perut, mata tidak pernah saum, mulut tidak pernah saum, hanya bisa menyakiti orang lain
Mungkin haji kita akan menolong tapi haji kita haji mardun, yang tertolak karena niatnya tidak benar
Tinggallah kita menderita, paling hanya doa anak dan keluarga kita yang kita tunggu tunggu, tapi bagaimana ?
Mereka tidak bisa berdoa karna kita tidak pernah mengajarkan mengenal Allah dengan baik
Tahukah saudaraku, siksa kubur terhenti apabila anak kita berdoa atau orang yang Allah titipkan
Doa tersebut bagai cahaya yang masuk sehingga kubur kita menjadi terang benerang
Berbahagialah bagi orang orang yang cukup bekal, kubur akan menjadi salah satu kenikmatan

Sholatnya menjadi cahaya terang benerang ,

sedekahnya menjadi ganjaran,

wakafnya menjadi pahala yang tak pernah putus,

orang orang yang ditolong akan selalu mendoakan, ilmu yang diajarkan akan mengalir tiga ganjaran

Wahai saudaraku, kenapa kita selalu mengganggap kematian itu keliatannya adalah untuk orang lain, padahal kita pasti mati
Setiap perbuatan kita di dunia akan dihitung lengkap, apakah kebaikan, keburukan yang lebih banyak
Wahai Allah, Engkaulah yang maha tahu kapan ajal akan menjemput kami
Kain kafan mana yang akan dililitkan di tubuh ini,
Juga liang lahat mana yang kami akan huni
Wahai Allah ijinkanlah kami memiliki sisa umur yang benar, ampunilah andaikata selama ini kami menghianatimu
Jadikan harta yang engkau titipkan benar benar dapat menjadi cahaya dalam kubur kami kelak

Jadikanlah sholat sholat kami menjadi pendamping kami ya Allah

ORANG TUAKU ....
Kita tidak tahu akan berapa lama lagi kita bisa menatap wajah ibu bapak kita
Andaikata ibu bapak kita sudah terbungkus kafan
Tidak ada lagi wajah yang bisa ditatap
Tidak ada lagi tangan yang bisa kita cium
Tidak ada lagi oleh oleh yang bisa kita bawakan
Tidak ada lagi sapaan yang bisa kita tunggu
Tidak ada lagi doanya untuk kita
Andai ibu bapak kita sudah berada di liang lahat maka tidak pernah lagi kita melihat lagi mereka dirumah
Andai tanah sudah menimbun jasadnya
Jangan sia siakan ibu bapak kita
Sampai kapanlah kita akan melukai hatinya,
seburuk apapun keadaannya darah dagingnya melekat pada tubuh kita
Solehkanlah yang orang tuanya yang belum soleh
Muliakan yang orang tuanya terhina
Saudaraku kenanglah kebaikan orang tua kita

Dimana gerangan di akhirat keluarga kita berkumpul, adik, kakak, apakah kita kan kumpul di surga berjumpa dengan Rosul Allah atau cerai berai di neraka

Ya Allah utuhkan keluarga kami di dunia ini mulia, utuhkanlah keluarga kami di surgaMu mulia

Ya Allah karuniakan kepada kami hati yang penuh cinta, cinta kepadamu ya Allah, dan golongkanlah hati ini menjadi hati yang selalu rindu ingin berjumpa dengan Mu

DOAKU ....
Ya Allah kami mohon berikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala dosa dosa kami,
Ampun ya Allah..., Ampunilah kami ya Allah ...
Ampuni sekelam apapun masa lalu kami,
Hapuskanlah segala kotornya aib aib kami
Ampuni apabila kami sering tidak ridho dengan takdir Mu ya Allah

Ampuni segala kezaliman kami, terhadap orang tua kami
Ya Allah, selamatkan orang tua kami, jadikan tetesan keringatnya,
Air matanya, darahnya jadi jalan
Kemuliaan bagi dunia dan akhirat
Sayangi ibu bapak kami ya Allah....
Golongkan kami menjadi anak yang tahu balas budi
Lapangkan kuburnya ya Allah 3x, ringankan hisabnya, Amin

KESIMPULAN
Saudaraku, sebaik baiknya manusia adalah manusia yang selalu ingat mati
dan paling mempersiapkan diri kita untuk mati dan
selalu berfikir hari ini adalah hari yang terakhir kita

Luruskan niat dan berbuatlah yang terbaik setiap saat,
jangan pernah sia siakan satu kejadianpun kecuali
harus membawa manfaat bagi dunia dan akhirat

Ya Allah berikan kesempatan untuk memberikan
yang terbaik dalam hidup ini berguna bagi dunia
dan bermanfaat bagi akhirat

Kita songsong malaikat maut dengan amalan yang utama
Selamat berjuang saudaraku sekalian untuk mengarungi sisa umur ini
Semoga kita diberi kesempatan untuk mempersembahkan yang terbaik dan
kita berjumpa dihadapan Allah kelak di Surga amin ya robbal alamin,
hidup untuk mempersembahkan yang terbaik berguna untuk dunia &
bermanfaat bagi akhirat, Selamat berjuang ....

Wassalam wr wb
....Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar

KH Abdullah Gymnastiar

Tuesday, April 25, 2006

Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya

Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya
Ketika Al-Musthafa berada dihadapan
Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala,
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar ra)

Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi.
Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah
anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir,
kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman
manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab
dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan
salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan
sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih
Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak
dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah,
Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri".
Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun
suara asing semula kembali mengucapkan salam yang
pertama.

"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang
menjawabnya.

"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini
sedang berada di luar?"

"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar
suaranya"

"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia,
pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan
penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir
membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis
seperti anak kecil.

"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur,
harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang
engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan
ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia
memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan
pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih
Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau
adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar
kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi
bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk.
Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini
berada di samping Muhammad SAW.

"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim
malaikat memberi salam.

"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah
Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah
mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus
dingin.

"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut
nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak
Allah memerintahkanku untuk kembali"

"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai malaikatul
maut?"

"Ia ku tinggal di atas langit dunia".

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan
salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena
Allah.

"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta
Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga
manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di
buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu
sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah
di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah
berhias menyongsong kehadiran yang paling
ditunggu-tunggu".

"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu
Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini,
bagaimana keadaan ummatku nanti".

"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah
berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga
bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama
kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat
manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu
memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh.
Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya.
Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit
lagi. Dan ia pun menyuruh malaikatul maut mendekat dan
menjalankan amanah Allah.

Malaikatul maut, melakukan tugasnya. Perlahan anggota
tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak
bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira
itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia
pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga
ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam
genggaman Malaikatul maut, Nabi sempat bertutur,
"Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling
tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi
di segala situasi.

"Apakah engkau membenciku Jibril"

"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan
sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi
kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan
perlahan "Ummatku… Ummatku….Ummatku....". Dan ia pun
dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi
dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal,
ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63
tahun.

Muhammad SAW, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di
masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan
gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi
peringatan kepada semua manusia, menorehkan
dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah.
Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah
alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya,
demi malam ketika telah mengembang, demi matahari
sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada
cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad SAW,
menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan
banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani
kehidupan. Ia, Muhammad SAW, yang di sanjung semua
malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang
surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang
dikerjakan. Ia, Muhammad SAW yang selalu menyayangi
fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah
untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang
berkekurangan. Dan Ia, Muhammad SAW, tak akan pernah
kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia
terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah
kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya,
menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang,
suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa.
Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah
pergi:

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada
empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut
roti gandum

Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas
pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam
karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar bin Khattab r.a yang paling dekat dengan
musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus
pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk
setiap mulut yang berani menyebut kekasih
kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap
wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya,
meyakinkan mereka bahwa Umar bersungguh-sungguh. Umar
terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang.
Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan
para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar
manusia yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya,
melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya
berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang
tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok
cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga
berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu
bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus,
tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad
wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah
yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin
dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya
selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan
jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya
kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit,
demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar
mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan
mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan
dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu
bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya.
Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda,
indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu.
Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar
menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di
depan tubuh Nabi yang telah sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi
udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi
mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya
selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih
‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik
tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak
pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk
mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu
saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk
menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut,
"Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu
kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung
Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang
Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki
langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap
jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa
diungkapkan. Semesta menangis.

***
Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha
tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai
kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita
terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski
hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu
duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa
kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh
dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang
sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam
kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat
ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang
kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung
Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa
merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling
mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi
menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak
pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang
paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika
sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga,
berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman
yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah
di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke
angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk
memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab
neraka. Adakah sahabat???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak
matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah
pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau
tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu
menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama
bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan
keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta
ajarkan. Mari Sahabat!

Kepada semua sahabat yang merindukan Al-Musthafa

Friday, April 21, 2006

Pertama

Posting pertama ini tidak berisi apa-apa, ini karena sebelum Blog ini bisa di customize, Blogspot mengharuskan posting terlebih dahulu